Demi Jilbab, Muslim Rusia Rela Pindahkan Sekolah Anaknya

Demo  mendukung jilbab di sebuah negara Eropa
Wartadakwah.com - MOSKOW, Larangan baru pada pemakaian jilbab di wilayah selatan Rusia di Stavropol memaksa penduduk Muslim  di daerah tersebut untuk menyekolahkan anak perempuannya ke wilayah lain untuk bisa mengenakan jilbab atau memberikan pendidikan home schooling bagi mereka.

"Jika mereka berpikir bahwa karena sesuatu akan terjadi dengan putri saya, saya akan melupakan agama saya, saya katakan, tidak, agama adalah tujuan dari hidup saya," kata Ali Salikhov, seorang ayah kepada The New York Times pada hari Selasa, 19 Maret, demikian sebagaimana dilansir onislam.net.

"Selama 70 tahun mereka (pemerintah komunis) mengajarkan kita bahwa tidak ada Tuhan, tapi itu berlalu, dan ini juga akan berlalu.

"Dalam 20 tahun mereka akan lupa bahwa jilbab yang pernah dilarang di Rusia."

Putri Salikhov dilarang mengenakan jilbab setelah sekolah mereka di desa Kara-Tyube melarang pakaian muslimah tersebut di bulan Oktober. Meskipun mereka pada awalnya diizinkan untuk menghadiri sekolah mereka pada bulan September ketika mengenakan jilbab, mereka diberitahu kemudian bahwa mereka tidak akan diizinkan lagi masuk kecuali mereka menanggalkan jilbab mereka.

Masalah ini menarik perhatian media setelah kepala sekolah mereka menjadi 'bintang' di media massa karena menolak menerima kehadiran anak-anak ke sekolah dengan berjilbab. Departemen Pendidikan Rusia mendukung  sekolah, mengatakan bahwa sekolah diperbolehkan untuk mengadopsi peraturan mereka sendiri tentang seragam dan aturan perilaku.

Presiden Rusia Vladimir Putin juga  mendukung larangan siswi Muslim di Rusia mengenakan hijab atau jilbab. Meski tidak menyatakan secara terbuka, Presiden, dalam sebuah pernyataan dinilai ikut mendukung pelarangan tersebut dengan mengatakan Rusia sebagai negara sekuler dan harus menciptakan kondisi yang setara untuk semua warganya.

Pelarangan ini membuat orang tua muslim memilih untuk menyekolahkan anak perempuanya ke daerah atau kota lain yang mengijinkan jilbab. Mendengar berita ini, Raifat  15 tahun, putri Salikhov,  menangis karena dia akan dikirim ke Dagestan, wilayah dekat Stavropol.

"Dia tidak ingin meninggalkan," kata ibunya Maryam Salikhova.

"Dia sedih, dan gadis-gadis lain sedih. Mereka mengatakan, 'Tinggallah di sini bersama kami. "Tapi dia sudah dewasa."

Di Chechnya, yang berbatasan Stavropol dan merupakan tempat pergolakan umat muslim, jilbab adalah bagian dari aturan berpakaian yang dapat diterima. Tapi di daerah di mana mereka berada dalam minoritas, Muslim Rusia mengeluh bahwa hak-hak mereka tidak sama dengan rekan-rekan mereka dari Ortodoks.

Federasi Rusia adalah rumah bagi sekitar 23 juta Muslim yang bermukim di Kaukasus utara dan selatan republik Chechnya, Ingushetia dan Dagestan. Islam adalah agama terbesar kedua Rusia yang mewakili sekitar 15 persen dari 145 juta penduduknya yang mayoritasnya adalah Kristen Ortodoks. [rah/MD]

Share this:

Post a Comment

 
Copyright © Warta Dakwah | Media Pencerah Umat. Designed by OddThemes