Tak Berharap Selain Kepada-Nya

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Sejenak, marilah kita panjatkan do'a kepada Allah subhanahu wa ta'ala:
 
"اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ"
 
"Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal dari-Mu dan jauhkanlah aku dari yang Engkau haramkan. Dan cukupkanlah (kayakan) aku dengan keutamaan rezeki-Mu sehingga tidak perlu aku kepada selain-Mu." (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad).
 
 
Ini adalah do'a dan sekaligus ikrar untuk mencari hanya yang halal dan berjuang untuk menjaga diri dari bergantung kepada selain Allah Ta'ala. Inilah do'a yang senantiasa saya panjatkan, terlebih awal menikah ketika amat terasa betapa tiada harapan kecuali dengan keajaiban dari-Nya.
 
Kadang tak ada gambaran tentang makan siang saat sedang menikmati makan pagi bersama istri, sepiring berdua. Apalagi berbincang makan apa enaknya atau makan dimana. Tetapi, Allah Ta'ala tak pernah kehabisan jalan untuk melimpahkan rezeki dari arah manapun yang Allah mau. Dan Allah Ta'ala cukupi rezeki.
 
Kadang ada saat ketika rasa lapar mendera. Inilah saat untuk lebih menguatkan do'a yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan Imam Ahmad itu. Ada saat ketika saya dan istri harus makan sebungkus berdua. Bukan karena sedang ingin romantis. Bukan. Tapi karena itulah bagian rezeki kami saat itu. Dan betapa berbeda, makan nikmat dengan makan enak. Yang lezat tak selalu nikmat. Kadang ala kadarnya justru jadikan syukur lebih terasa.
 
Membaca do'a ini, merenungi maknanya dan menghayati konsekuensinya menjadikan 'izzah tegak. Kepala tetap tegak dan langkah tetap tegap. Jika rezeki terasa lambat datangnya, maka hal yang senantiasa harus kuingat adalah sifat Allah Ta'ala Yang Maha Bijaksana. Allah Ta'ala tak pernah salah waktu, apalagi salah alamat, dalam memberi rezeki. Allah Ta'ala limpahkan rezeki di saat yang tepat. Allah Ta'ala juga berikan dengan takaran yang tepat.
 
Yang saya takutkan adalah limpahan rezeki yang meluap, tapi kering dari barakah-Nya. Betapa banyak yang semakin bertambah rezekinya, semakin berkurang kebaikannya dan semakin jauh ia dari kesejukan hati. Bahagia itu jauh... Maka, kerap saya melarang orang mendo'akan banyak rezeki jika tidak sekaligus dimintakan kebarakahan kepada Allah 'Azza wa Jalla.
 
Betapa banyak yang rumahnya amat lapang, tapi hatinya amat sempit ketika tinggal di dalamnya. Betapa banyak yang rumahnya luas, tapi ia merasa terhimpit di rumahnya sendiri sehingga senantiasa mencari kesempatan untuk menghabiskan waktu berpanjang-panjang di luar rumah.
 
Kadang bersebab kurangnya qana'ah, lemahnya sabar dan tipisnya rasa syukur, diri ini merasa berat dengan apa yang ditakdirkan-Nya. Tetapi, tidaklah kuizinkan mulutku bicara kepada sanak keluarga, apalagi orangtua, kecuali untuk memberi kabar yang baik-baik saja. Sebab, amat tak pantas mengeluhkan Al-Khaliq kepada makhluq. Padahal tiap makhluq amat menghajatkan pertolongan-Nya. Tak kuasa atas dirinya. Dan tidak pula aku izinkan mulut istriku bicara kepada sanak kerabat, apalagi orangtua, juga kecuali untuk beri kabar yang baik-baik saja.
 
Sesungguhnya di antara kebaikan seorang muslim ialah melekatkan sifat 'afaf dan ghina. 'Afaf itu menjaga dari yang haram. Adapun ghina adalah merasa cukup, merasa "kaya". Tepatnya, ghina itu merasa cukup dengan apa yang Allah Ta'ala karuniakan kepadanya. Ia bekerja keras untuk penuhi fardhu. Adapun rezeki, ia merasa cukup dan belajar untuk merasa cukup. Semoga yang demikian jadikan kita ridha kepada apa yang Allah Ta'ala berikan.
 
Marilah sejenak kita mengingat kembali do'a kita:
 
 
"اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى"
 
"Ya Allah, aku meminta kepada-Mu petunjuk, ketaqwaan, serta sifat ‘afaf dan ghina." (HR. Muslim).
 
 
Renungilah sejenak do'a itu. Betapa kita seharusnya senantiasa mengharap hidayah, ketaqwaan, keterjagaan diri dan perasaan cukup. Inilah di antara kunci keselamatan, kebarakahan dan kebahagiaan. Betapa banyak yang Allah Ta'ala telah limpahkan rezeki, tapi ia tetap merasa kehausan rezeki, tidak pula ada pada dirinya keterjagaan diri ('afaf), sehingga dirinya terjatuh pada perbuatan haram untuk semakin menumpuk-numpuk harta. Hartanya bertambah, makin banyak kesenangan yang dapat ia beli, tapi kebahagiaan kian jauh. Apalagi taqwa. Ia tak pernah merasa cukup karena hilang darinya sifat qana'ah. Maka, ingatlah do'a yang dituntunkan Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam:
 
 
"اَللَّهُمَّ قَنِّعْــنِيْ بِـمَا رَزَقْــــتَــنِيْ، وَبَارِكْ لِيْ فِيْهِ، وَاخْلُفْ عَلَى كُـلِّ غَائِـبَةٍ لِيْ بِـخَيْرٍ"
 
“Ya Allah, jadikanlah aku merasa qana’ah (merasa cukup, puas, rela) terhadap apa yang telah engkau rezeqikan kepadaku, dan berikanlah barakah kepadaku di dalamnya, dan jadikanlah bagiku semua yang hilang dariku dengan yang lebih baik.” (HR. Al-Hakim).
 
 
Betapa sederhana kebahagiaan itu. Semoga kita termasuk di dalamnya. Semoga kita tak mengingkari nikmat-Nya.

Share this:

Post a Comment

 
Copyright © Warta Dakwah | Media Pencerah Umat. Designed by OddThemes