Bagaimana Saat si Kecil Bertanya Seks?

Ilustrasi (rumahkeluarga-indonesia)
Wartadakwah.net - Menjawab pertanyaan anak terkait masalah seks, kerap membuat orangtua gelagapan. Kita tentu tak ingin salah memberi info yang akan menjadi konsep baru bagi pemikiran kecilnya. Psikolog keluarga dari Universitas Indonesia, Sani B Hermawan, Psi, memberi tip singkat bagaimana menyikapi pertanyaan atau perilaku si kecil terkait seks.

"Kok, adik punya 'ekor', aku tidak?"

Saat anak bingung dan bertanya mengapa kelaminnya berbeda dengan lawan jenisnya, inilah kesempatan Anda menanamkan konsep yang baik tentang perbedaan lelaki dan perempuan. Kenalkan bagian tubuh dengan nama sebenarnya, tidak dengan kata pengganti ‘burung' atau 'ekor’. Misal, “Itu namanya penis, karena adik laki-laki. Sedangkan punya Kakak, anak perempuan, namanya vagina.”

"Bagaimana adik bayi dibuat?"

Balita tak memerlukan jawaban rumit dan detail. Ia belum paham konsep hubungan intim orangtuanya. Cukup katakan, “Adik dibuat Allah di perut Ibu, lalu dikeluarkan dibantu dokter dan suster.” Ketika anak semakin besar, beri pemahaman bahwa bayi harusnya lahir dari orang yang sudah menikah. Jadi, anak akan punya paradigma yang benar bahwa mereka punya bayi setelah menikah nanti, bukan sebelumnya.

Ketika anak “memergoki” orangtua di kamar

Orangtua harus menghindari hal ini. Pastikan pintu kamar terkunci atau tidak melakukannya saat tidur sekamar dengan anak. Karena saat itu terjadi, akan timbul situasi yang dilematis. Ketika dijelaskan anak jadi bingung, tidak dijelaskan ia pun bertanya-tanya. Jika anak telanjur memergoki, bersikaplah seolah tak ada hal penting yang terjadi dan tak perlu menjelaskan apa pun ketika anak tak bertanya. Jika ia bertanya, beri jawaban sederhana, “Ayah dan Ibu sedang mengobrol saja, kok.”

Anak suka memainkan alat kelamin

Di usia 3-5 tahun anak memang suka memainkan daerah aerogen—yang merangsang genital atau alat kelamin. Ini wajar karena anak baru memahami sensasi kenikmatan saat mengeksplorasi daerah tersebut. Namun, jika sudah terlalu sering mendapati anak memainkan alat kelaminnya, cari cara untuk mengalihkannya. Beri pemahaman yang masuk akal, seperti tak boleh sering dipegang karena bisa berdarah, sakit, luka, atau masuk kuman penyakit.

Anak bicara tak layak

Cara paling efektif adalah berkata TIDAK dengan konsisten. Jangan ada orang rumah yang menyebutkan kata terlarang itu sebagai hal biasa. Penting pula mengajarkan anak agar bisa mengucapkan TIDAK kepada orang yang, misalnya, berbicara tak layak atau memegang bagian-bagian tubuhnya yang harus dijaga, seperti dada, bokong, dan alat kelaminnya. Dorong anak untuk langsung melapor pada orangtua jika ada yang melanggarnya. Anak harus paham bahwa hanya orangtua atau dokter yang boleh memegang bagian tertentu tubuhnya.

Intinya, berikan penjelasan yang bijak kepada anak sesuai usia dan pemikirannya. Pemahaman yang tepat adalah pagar pertama membentengi anak dari pengaruh buruk seks bebas dan pornografi.

Meutia Geumala
Wawancara: Desmalia Anggraini [Ummi-Online]

Share this:

Post a Comment

 
Copyright © Warta Dakwah | Media Pencerah Umat. Designed by OddThemes