Bolehkah Menikah Tanpa Restu Orangtua?

Wartadakwah.net - Saya sudah 6 tahun berhubungan dengan seorang lelaki dan berniat untuk melanjutkan pernikahan, tapi sampai sekarang belum mendapat restu dari kedua orangtua. Bahkan orangtua juga memberikan doa, yang didapatnya dari seorang kyai, untuk saya amalkan agar saya segera mendapatkan pengganti yang lain.

Saya sudah shalat istikharah dan berdoa agar di hari ulang tahun saya kemarin diberikan jodoh. Dan ternyata, tepat pada hari itu lelaki tersebut melamar saya. Namun orangtua tetap tak mau menerimanya karena alasan pekerjaan dan pendidikan yang tidak setara dengan saya.

Ummi, apakah memang dia benar-benar jodoh saya berdasarkan doa yang ternyata sesuai dengan kenyataan di hari ulang tahun saya itu? Karena orangtua tak juga kunjung mengizinkan sementara kami sudah berkomitmen untuk melanjutkan hubungan, bolehkah kami menikah dengan wali hakim? Mohon solusinya.
Desia, via e-mail

Jawaban

Sayang sekali Nanda tidak menjelaskan bagaimana agama dan akhlak laki-laki itu. Kalau memang baik, barangkali bisa diupayakan pendekatan kepada pihak kerabat lainnya, misalnya keluarga besar ayah atau ibu seperti paman dan bibi, atau meminta orang yang dituakan oleh orangtua untuk memberikan pengertian kepada orangtua. Upaya ini perlu ditempuh dengan sabar. Sebab walau bagaimanapun menikah tanpa adanya wali (ayah) maka pernikahan tersebut batal.

Apabila upaya ini tidak menunjukkan hasil yang baik, maka ajaklah orangtua berbicara dari hati ke hati dan sampaikan dengan kelembutan bahwa Nanda mohon diizinkan menikah dengan pemuda ini. Jika orangtua masih keberatan, beri tahu keduanya bahwa Nanda sudah bertekad memilihnya untuk menjadi suami Nanda. Minta izin kepada ayah (apabila beliau tidak berkenan menjadi wali) agar mungkin paman, abang atau adik atau kakek bisa menggantikan beliau menjadi wali.

Hal yang perlu diingat, tidak dibenarkan Nanda menikah dengan wali hakim selama masih ada ayah kandung, kakek, saudara kandung (kakak atau adik) dan paman. Hadits yang diriwayatkan Aisyah ra menjelaskan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Tidak sah pernikahan melainkan dengan adanya wali.” (HR Abu Daud, Ibnu Majah, dan Imam Tirmizi).

Pandangan itu dipegang oleh para ulama dari kalangan sahabat Nabi seperti Umar ra, Ali ra, Ibnu Abbas, Abu Hurairah dan lain-lain. Begitu juga para ulama dari kalangan Tabi’in dan Tabi’ tabi’in seperti Said bin Musayyab, Hasan Bashri, Sufyan at-Tsauri, Malik, Syafi’i, Ahmad, Ishak dan lain-lainnya.

Apabila memang Nanda yakin pilihan Nanda ini memiliki pemahaman agama yang baik dan mampu membimbing Nanda menjadi istri yang shalihah, ketika tidak ada lagi wali dari keluarga Nanda maka barulah dibenarkan Nanda menikah dengan wali hakim. Namun tetaplah sebelumnya memberi tahu atau meminta izin kedua orangtua dengan cara yang  baik.

Pengasuh fiqih Wanita Majalah Ummi: Dra Herlini Amran, MA. Lulusan S2 Wefaq ul Madarise al-Salafia Faisal Abad, Pakistan, jurusan Arabic & Islamic Studies.

Sumber: ummi-online.com

Share this:

Post a Comment

 
Copyright © Warta Dakwah | Media Pencerah Umat. Designed by OddThemes