Kaum Munafik Pemecah Belah Umat

Wartadakwah.net - Sepulang dari perang Bani Mushthaliq, pasukan kaum muslimin beristirahat di sebuah tempat. Pada waktu itu ada kejadian yang digunakan gembong munafik bernama Abdullah bin Ubay bin Salul untuk memecah belah persatuan umat.

Ibnu Hisyam mengisahkan peristiwa itu, “Ketika Rasulullah Saw berada pada tempat mata air itu (telaga Al-Muraisi), datanglah sekelompok orang. Salah satu pelayan Umar Ibnul Khaththab bernama Jahjah bin Said al-Ghiffari pun datang menunggangi kudanya. Saat mengambil air, ia berebut dengan Sinan bin Wabr al-Juhani. Kejadian itu berlanjut pada sebuah pertengkaran. Sinan berteriak, “Wahai orang-orang Anshar,” sedangkan Jahjah memanggil, “Wahai orang-orang Muhajirin.”


Ketika mendengar hal itu, Abdullah bin Ubay bin Salul yang sedang bersama kawan-kawannya, diantaranya Zaid bin Arqam, marah. Ia berkata, “Mengapa mereka berbuat demikian? Padahal mereka telah merepotkan kita di negeri kita. Mereka tidak berbeda dengan anjing yang telah kita gemukkan, kemudian malah menggigit kita sendiri. Demi Allah, setelah pulang ke Madinah nanti, orang-orang yang mulia pasti akan mengusir orang-orang yang hina itu.” Kemudian ia berkata kepada orang-orang Anshar yang kebetulan berada bersamanya, “Ini adalah salah kalian sendiri. Kalian berikan negeri kalian, kemudian kalian bagi harta kalian kepada mereka. Demi Allah, seandainya saja kalian tidak berbuat demikian, tentu mereka akan pergi ke negeri yang lain.”


Zaid bin Arqam yang mendengar hal itu, kemudian melaporkannya kepada Rasulullah Saw. Saat itu beliau sedang berada bersama Umar Ibnul Khaththab. Umar berkata, ‘Suruh saja Ubad bin Basyar untuk membunuhnya.’


Mendengar perkataan Umar, Rasulullah Saw berkata,
‘Bagaimana kalau orang-orang nanti berbicara bahwa Muhammad membunuh sahabatnya. Tidak, jangan demikian. Lebih baik kita berangkat saja ke Madinah dengan cepat.’

Mereka berangkat pada waktu yang biasanya Rasulullah Saw tidak pernah menggunakannya untuk berjalan. Setelah tahu bahwa Rasulullah Saw telah mengetahui kejadian itu, Abdullah bin Ubay pun mendatangi beliau dan bersumpah bahwa ia tidak pernah mengatakan hal yang demikian karena dia itu termasuk orang yang terkemuka dan terhormat di kaumnya. Kemudian orang-orang yang bersama Rasulullah Saw berkata kepada beliau untuk membela Abdullah bin Ubay sembari menyalahkan Zaid bin Arqam, “Wahai Rasulullah, kemungkinan orang yang mengabarkan hal itu salah bicara dan lupa dengan yang ia dengar,” kata mereka.


Setelah mereka memulai perjalanan, datanglah Usaid bin Hudhair –sahabat senior Anshar/tokoh Madinah- menemui Rasulullah Saw, memberi hormat kepada beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah, engkau telah melakukan perjalanan pada waktu-waktu  yang tidak biasanya.” Rasulullah Saw menjawab,
“Tidakkah kamu dengar apa yang dikatakan temanmu?” Ia tidak paham dan bertanya, “Teman? Siapa wahai Rasulullah?.” “Abdullah bin Ubay bin Salul,” jawab beliau. Kemudian ia bertanya lagi, “Apa yang ia katakan?” Beliau menjawab, “Ia bilang bahwa nanti sesampainya di Madinah, orang-orang yang mulia akan mengusir orang-orang yang hina (maksudnya Muhajirin).” Usaid berkata, “Demi Allah, kalau mau, engkau bisa mengusirnya dari Madinah. Ia sunggguh hina dan engkaulah orang yang mulia. Wahai Rasulullah, berhati-hatilah terhadapnya, Allah swt telah menolong kami dengan mendatangkanmu. Anak buah Abdullah sangat mendukungnya untuk menjadi raja dan Abdullah sendiri menganggapmu telah merampas kedudukannya.”

Mereka berjalan sepanjang hari, sampai siang hari berikutnya. Ketika hari sudah sangat terik, Rasulullah Saw mengajak pasukannya beristirahat. Baru sebentar berhenti, mereka langsung terlelap tidur. Sengaja Rasulullah Saw berbuat demikian agar mereka tidak sempat membicarakan kejadian yang baru saja terjadi pada hari sebelumnya.


Kemudian mereka memulai perjalanan kembali dan beristirahat di dekat sebuah mata air di daerah Hijaz. Di sinilah turun surat Al-Munafiqun yang membicarakan masalah orang-orang munafik. Ayat itu turun berkenaan dengan peristiwa yang baru saja terjadi beberapa hari yang lalu. Di dalam surat itu, di antaranya Allah Swt berfirman:


“Mereka berkata: "Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari padanya." Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.”
(QS. Al Munafiqun [63]: 8)

Setelah ayat itu turun, beliau memegang telinga Zaid bin Arqam dan berkata,
‘Inilah orang yang telah melaksanakan amanah apa yang telah ia dengar.’

Kejadian itu didengar oleh Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul. Sesampainya di Madinah ia kemudian mendatangi Rasulullah Saw dan berkata, “Wahai Rasulullah, kudengar engkau hendak membunuh Abdullah bin Ubay bin Salul akibat apa yang telah ia katakan tentangmu. Kalau memang demikian, perintahkanlah aku untuk memenggal kepalanya dan kuserahkan kepadamu. Demi Allah, di seluruh kaum Khazraj tidak ada orang yang lebih berbakti kepada orang tuanya dari aku, hingga aku takut jika engkau menyuruh orang lain untuk membunuhnya dan kemudian ia membunuhnya, aku tidak tahan melihat pembunuh Abdullah bin Ubay bin Salul hidup dan berjalan di atas bumi, kemudian akhirnya aku membunuhnya. Dengan demikian, berarti aku telah membunuh seorang mukmin hanya karena ia membunuh seorang kafir, maka aku masuk neraka.”


Mendengar perkataan anak Abdullah bin Ubay itu Rasulullah Saw berkata,
“Bahkan kita akan  bertindak lemah lembut dan berlaku baik kepadanya, selama dia masih tinggal bersama kita.”

Sejak itulah, bila Abdullah bin Ubay bin Salul mengemukakan pendapat atau ucapan, ia selalu ditentang dan dikecam oleh kaumnya sendiri.


Rasulullah Saw kemudian berkata kepada Umar bin Khaththab,
“Bagaimana pandanganmu wahai Umar?. Demi Allah, seandainya engkau membunuhnya pada hari kau katakan kepadaku “bunuhlah dia” niscaya orang-orang akan ribut. Akan tetapi, seandainya aku perintahkan kamu untuk membunuhnya sekarang, apakah kamu akan membunuhnya juga?”. Umar menjawab, “Demi Allah, aku telah mengetahui bahwa keputusan Rasulullah Saw lebih besar berkahnya ketimbang pendapatku.”

[shodiq ramadhan/Suara-islam]

Share this:

Post a Comment

 
Copyright © Warta Dakwah | Media Pencerah Umat. Designed by OddThemes