Sungguh, Lelaki Tak Ingin Selingkuh

Wartadakwah.net - “Saya tak pernah terpikir untuk membagi hati untuk wanita lain. Tapi kebaikan dan keramahan saya yang biasa saja, tampak disalahartikan oleh S, teman kantor. Perhatiannya yang bikin ge-er, curhatnya, serta gelagatnya tampak jelas ia suka sama saya. Dan entah mengapa saya, kok, jadi menikmati saat-saat bersamanya?” aku TS (39) sambil garuk-garuk kepala salah tingkah di depan kerabat Ummi.

Bagaimana perasaan Anda ketika membaca kondisi di atas? Mungkin ada perasaan sebal, iba pada sang istri, atau geregetan karena si suami mulai tidak setia.

Semoga itu hanya kasus di luar sana, bukan rumah tangga kita. Namun, di mana pun terjadinya, tetap menjadi tanggung jawab perempuan untuk mendudukkan masalah ini dengan bijak.

Perselingkuhan makin tinggi

Sebenarnya selingkuh itu apa, sih? Asya (2000) mendefinisikan selingkuh sebagai perbuatan seorang suami (istri) dalam bentuk menjalin hubungan dengan seseorang di luar ikatan perkawinan yang kalau diketahui pasangan sah akan dinyatakan sebagai perbuatan menyakiti, mengkhianati, melanggar kesepakatan, di luar komitmen.

Dengan kata lain, selingkuh mengandung makna ketidakjujuran, ketidakpercayaan, tidaksaling menghargai, dan kepengecutan dengan maksud menikmati hubungan dengan orang lain sehingga terpenuhi kebutuhan afeksi-seksualitas—meskipun tidak harus terjadi hubungan sebadan.

M Jamaluddin Ahmad, Psi, Direktur Sumber Daya Insani Rumah Sakit Islam Cempaka Putih Jakarta mengatakan bahwa 40-45% masalah pasutri saat ini adalah suami selingkuh. “Sekitar empat tahun belakangan ini tingkat perselingkuhan semakin tinggi, seiring dengan tingginya tingkat perceraian,” jelasnya.

Mengapa ini bisa terjadi? Selama 20 tahun praktik sebagai psikolog, Jamaluddin memastikan bahwa hampir semua kasus perselingkuhan disebabkan oleh tiga hal. Pertama, minimnya tingkat religiusitas seseorang. Kedua, lingkungan yang memberi peluang, seperti bergaul dengan teman yang gampang selingkuh dan tak ada batas pergaulan antar lawan jenis. Ketiga, orang yang kurang mampu mengendalikan diri, baru mendapat godaan sedikit langsung melenceng.

Sedangkan konselor pernikahan M Gary Neuman, dalam bukunya The Truth About Cheating mengungkap, dari 200 orang pria beristri yang disurvei, 77% suami selingkuh memiliki teman dekat yang juga berselingkuh; 48% suami menyatakan ketidakpuasan emosional sebagai alasan utama selingkuh; dan hanya 12% yang mengakui bahwa wanita simpanan mereka secara fisik lebih menarik dari istri. Ini menunjukkan bahwa lingkungan serta ketidakmatangan iman dan mental tetap menjadi pemicu utama seseorang berpaling.

Pahami kodrat lelaki
Bicara kodrat, tentu saja tidak ada lelaki atau perempuan yang dilahirkan pasti akan selingkuh. Namun naluri dan struktur otak lelaki yang berbeda dengan perempuan, membuat laki-laki cenderung mudah terpikat dibanding perempuan.

Salah satunya, dijelaskan Jamaluddin, adalah bagian otak laki-laki yang berhubungan dengan seks, lebih besar dibanding perempuan. Ini tentu sejalan dengan firman Allah dalam surat An-Nisaa ayat 4, yang membolehkan laki-laki menikahi perempuan lebih dari satu hingga maksimal empat. Pasti Allah sudah mempertimbangkan kadar kemampuan suami membagi perhatian pada keempat istri itu.

Sedangkan Sarlito Wirawan, Psi, psikolog dari Universitas Indonesia, mengungkapkan bahwa yang selingkuh itu memang cenderung laki-laki karena secara biologis tugasnya adalah memproduksi. Perempuan itu melindungi keturunan, sehingga memang tidak punya naluri selingkuh. Tak heran jika banyak para istri yang tidak menikah lagi setelah lama ditinggal suami, dan memilih membesarkan anaknya sendiri.

Memahami perbedaan di atas, maka tidak mungkin perempuan dapat begitu saja memaksa pasangannya agar tidak tertarik pada berbagai hal yang terkait seksualitas. Karena itu sudah built in dalam diri lelaki.

Cemburu dan rasa curiga berlebihan tentu akan lebih terkontrol ketika istri lebih bijak menghadapi kecenderungan suami. Namun bukan berarti istri boleh membiarkan begitu saja ketika itu berpotensi pada hal yang negatif.

Pendekatan keimanan adalah langkah paling efektif untuk membuat siapa pun bisa mengendalikan hawa nafsunya. Di samping, komunikasi efektif yang bisa memberi titik temu tentang apa sebetulnya yang paling dibutuhkan oleh masing-masing pasangan agar tidak mencari pelarian di luar.

Menyesal kemudian tak ada gunanya

Gary Nueman mengungkapkan bahwa 66% suami selingkuh mengaku merasa bersalah ketika berselingkuh. Mereka tidak pernah membayangkan akan menjadi tidak setia, bahkan hampir semuanya berharap tidak melakukan itu. Penyesalan kemudian memang tak ada gunanya.

Menurut Ustazah Amirotun Nafisah, pengajar di STIU Al-Hikmah, Jakarta, khianat seorang suami pada istrinya ketika dia bilang cinta namun sebenarnya tidak cinta, atau mungkin cintanya beralih ke orang lain. Sedangkan suami yang sekadar terpikat perempuan lain belum bisa dikatakan khianat.

Nurul Huda Haem, dalam bukunya Awas! Illegal Wedding, mengatakan bahwa selingkuh tidak saja berpeluang pada satu kesalahan, tapi juga mengarahkan pada kezaliman lain yang dahsyat. Menghancurkan bangunan keluarga sendiri, berbohong, zina, menyakiti hati pasangan, dan akhirnya juga merusak bangunan rumah tangga orang.

Maka, jika tak ingin menyesal di kemudian hari, tentunya istri dan suami harus sama-sama waspada akan bahaya yang mengintainya kapan saja. Sebab, walau lelaki mempunyai potensi lebih untuk selingkuh akibat berbagai fungsi hormonal dan otaknya, perempuan juga terbukti dapat tergelincir pada kesalahan yang sama.

Sesungguhnya hanya dua kata yang akan membebaskan kita dari segala beban dan kesakitan, yaitu “cinta istri” atau “cinta suami”. Maka pancinglah ia dengan kesetiaan cinta kita terlebih dahulu.

Sumber: Ummi-online

Share this:

Post a Comment

 
Copyright © Warta Dakwah | Media Pencerah Umat. Designed by OddThemes